JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual


User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Kegiatan Peningkatan Kapasitas Penyuluhan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Aceh sudah mulai menggeliat. Salah satu sub kegiatannya adalah pelaksanaan Kaji Terap yang kali ini mengangkat tema Percepatan Penerapan Teknologi Jarwo Super pada usahatani padi sawah. Kegiatan Kaji Terap dirangkai dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diikuti oleh 30 orang Penyuluh Pertanian (PPL) yang berasal dari 3 kecamatan di Aceh Besar.

Tanam perdana kaji terap jarwo super di lahan persawahan seluas 5 ha dilaksanakan pada tanggal 21 April 2018 bertempat di Desa Teureubeh, Kec. Kota Jantho, Kab. Aceh Besar. Desa ini memiliki hamparan lahan persawahan seluas 400 ha yang memiliki sistem pengairan irigasi teknis.

Berkesempatan hadir pada tanam perdana tersebut Bapak Dr. Ir. Mukti Sardjono, M.Sc (Staf Ahli Menteri) dari Kementerian Pertanian yang juga selaku Penanggung Jawab UPSUS Pajale di Provinsi Aceh didampingi oleh Kepala BPTP Aceh. Beliau ikut menyaksikan penggunaan alat Transplanter padi yang merupakan salah satu komponen dalam teknologi jarwo super. Diharapkan, penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) ini dapat memudahkan petani dalam proses penanaman padi di lokasi kegiatan dan mempercepat capaian Luas Tambah Tanam (LTT) padi di Aceh Besar secara keseluruhan.

Kegiatan Kaji Terap ini akan terus dilaksanakan sampai dengan tahap pemanenan yang akan menggunakan alat Combine Harvester (CH) yang mulai disukai oleh petani, karena dapat menghemat biaya tenaga kerja dan waktu panen.

Kegiatan Peningkatan Kapasitas Penyuluhan diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan PPL sebagai pejuang pembangunan pertanian sekaligus menderaskan arus transfer teknologi Balitbangtan ke petani pengguna (Admin/F).


 

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Dampak perubahan iklim terhadap pertanian sangat penting diketahui karena iklim dapat mempengaruhi produksi dan hasil panen. Kekeringan dan banjir masih merupakan ancaman serius bagi petani. "Untuk itu, kita perlu tingkatkan pemahaman iklim guna mendukung ketahanan pangan", papar Kepala Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Drs. Herizal, MSi pada acara Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II Tahun 2018 yang dilaksanakan di Hotel Oasis, Banda Aceh, Senin malam (19/418).

Menurutnya, pertanian tidak terlepas dari penggunaan bibit, lahan dan irigasi yang masih dapat dikendalikan, namun iklim tidak dapat dikendalikan,  SLI kerjasama antara BMKG dengan penyuluh pertanian dan petani untuk memahami kondisi iklim.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Iklim ekstrem merupakan salah satu penyebab penurunan produksi dan kegagalan panen, sementara informasi iklim BMKG tidak mudah dipahami, karena banyak mengandung istilah teknis, wilayah prakiraan terlalu luas dan belum spesifik lokasi.

Untuk itu kata Deputi Herizal perlu dilakukan peningkatan pengetahuan personil penyuluh lapang dan petani tentang iklim, karena pemahaman informasi iklim masih sangat terbatas. “Padahal, penyuluh lapang pertanian sebagai mediator (extension) sangat potensial untuk mentransfer pengetahuan iklim ke petani”, ujarnya.

Ditambahkan pula bahwa pelatihan adalah suatu proses agar peserta mampu dan terampil memahami informasi iklim beserta dampaknya terhadap kegiatan pertanian, serta dapat  melakukan berbagai upaya dalam antisipasi dan adaptasi terhadap adanya variabilitas ataupun iklim yang ekstrem.

Diharapkan, usai mengikuti pelatihan ini peserta mempunyai kapasitas dalam melakukan pelatihan atau transfer pengetahuan kepada penyuluh lain dan atau kelompok petani, sehingga pada akhirnya semakin banyak petani yang mempunyai kesadaran terhadap adanya variabilitas atau iklim ekstrem serta dampaknya pada kegiatan usahatani mereka.

Sementara, Abdul Azis, S.Pi.,M.P mewakili Kepala BPTP  Balitbangtan-Aceh menyampaikan terimakasih atas kerjasama yang telah dirintis sejak 2011. Wujud dari kerjasama tersebut, pihaknya telah melakukan sejumlah kajian demplot terkait hasil inovasi teknologi Balitbangtan seperti penggunaan varietas yang adaptif di lahan kering.

Hubungan kerjasama yang telah berjalan baik perlu ditingkatkan dengan melibatkan peneliti dan penyuluh. Khususnya pengoperasian  tiga alat  pengukur curah hujan yang ditempatkan pada tiga lokasi yaitu Kebun Percobaan (KP) Lampineung, KP. Paya Gajah dan KP. Gayo Bener Meriah. "Dengan mengupgrade ketiga alat tersebut, maka data yang diperoleh memiliki validitas tinggi dan terpercaya", pintanya.

Sebelumnya, ketua panitia Wahyuddin melaporkan bahwa kegiatan ini ajang tahunan sudah berjalan selama delapan tahun dan telah menghasilkan alumni 308 orang. Tujuannya agar peserta mampu dan terampil dalam memahami informasi iklim dan dampaknya terhadap kegiatan pertanian, sehingga dapat melakukan berbagai upaya antisipasi dan solusi.

Acara tersebut dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD) turut dihadiri KSPP BPTP Balitbangtan-Aceh, Dekan FP Unsyiah, dinas/ instansi terkait serta 30 penyuluh lapang se kabupaten/ kota Provinsi Aceh. (Samsul B)

 


 

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

BPTP Balitbangtan-Aceh melalui kegiatan kerjasama penyebarluasan inovasi teknologi pertanian melakukan  demplot bawang merah seluas 3.500 m2  di lahan Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP), Saree Kabupaten Aceh Besar, Senin (16/4/18). "Jika dikembangkan skala agribisnis, Bawang merah miliki prospek untuk petani milenial",  Papar Chandra Romaiyana, STP selaku Ketua Program Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura didampingi Ka. SMK-PP Saree.

Melalui demplot diharapkan dapat menjadi contoh dan tempat belajar bagi siswa dan petani setempat. "Selain itu petani dapat mengadopsi beberapa paket teknologi rekomendasi Badan Litbang Pertanian yang dapat meningkatkan hasil produksi" terangnya.

Menurutnya, Kabupaten  Aceh Besar mempunyai potensi yang cukup besar untuk pengembangan bawang merah skala agribisnis. Selama ini produksi bawang merah di Saree hanya untuk konsumsi pasar lokal saja, padahal masih bisa ditingkatkan produksinya melalui sentuhan teknologi sehingga bisa dipasarkan ke luar daerah. "Mengingat bawang merah merupakan tanaman hortikultura yang selalu dibutuhkan  masyarakat dan termasuk salah satu komoditi unggulan nasional", ujarnya.

Ia juga menyampaikan, wilayah Saree sangat cocok untuk pengembangan kawasan agribisnis hortikultura. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahwa bawang merah sangat prospektif dikembangkan dalam skala luas. “Dengan sistem budidaya seadanya, petani mengaku bisa berproduksi 18 ton/ hektar, apalagi bila ada introduksi inovasi Badan Litbang Pertanian,” yakinnya.

Ditambahkan, dengan kebutuhan bibit 2 ton/ ha petani dapat memperoleh hasil dengan perbandingan 1: 8, artinya 1 kg bibit dapat menghasilkan 8 kg bawang konsumsi.  Sementara harga bawang di tingkat petani saat ini mencapai Rp 25.000 - Rp. 32.000/ kg. Beberapa metode dan perbaikan teknologi yang diperkenalkan antara lain penggunaan mulsa, bibit asal umbi, pemupukan berimbang dan pengendalian HPT terpadu hingga pascapanen.

Sementara itu Abdul Azis selaku Kasi KSPP BPTP Aceh menyampaikan bahwa dengan melibatkan para siswa selain dapat menerapkan teknologi spesifik lokasi bawang merah di lokasi demplot. Sasaran akhir yang ingin dicapai adalah agar petani dan siswa dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan sehingga mereka dapat menjadi ujung tombak dalam pengembangan inovasi teknologi pertanian di daerahnya. (Anwar/F). 


 

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Kini, generasi muda merasa enggan untuk terjun dalam dunia pertanian. Dengan alasan takut 'kumuh'. Padahal sekarang bertani bisa juga dilakukan dengan teknologi modern baik penggunaan alsintan maupun teknologi hidroponik.

Sistem pertanian ini diyakini mampu menjadi solusi untuk menarik minat generasi milenial khususnya siswa SMK-PP Sare. Sebab, kata Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Saree, Muhammad Amin, SP. MP menuturkan, pertanian hidroponik ini sangat jauh dari kesan kumuh. "Untuk itu, kami bertekad mencetak siswa untuk menjadi petani milenial", ujarnya bersemangat.

Menurut Amin, dengan menerapkan sistem hidroponik disekolahnya, siswa tidak perlu lagi menggali tanah untuk bercocok tanam. Cukup  memanfaatkan pipa paralon yang ditata sedemikian rupa, tanaman dapat tumbuh dengan baik. Namun, perlu dipastikan adanya aliran air dan nutrisi ke tanaman karena dua komponen ini menjadi kunci dalam pertanian sistem hidroponik. "Media tanam yang digunakan pun bukan lagi tanah, melainkan arang sekam, spons ataupun expanded clay", jelasnya.

Pemanfaatan pertanian sistem hidroponik sambung Amin tidak memerlukan lahan luas untuk penerapannya. Sehingga, cara ini juga bisa diterapkan bagi masyarakat kota yang ingin bercocok tanam.

Sementara Kasi KSPPBPTP Balitbangtan-Aceh , Abdul Azis disela-sela tanam perdana demplot bawang merah merasa kagum dan bangga atas inisiasi SMK-PP Saree yang telah mengadopsi dan menerapkan model kawasan rumah pangan lestari (KRPL) yang merupakan inovasi teknologi Balitbangtan.

Pihaknya mulai tahun 2011 telah memperkenalkan teknologi model kawasan rumah pangan lestari ke seluruh kabupaten di Aceh, dan hasilnya sangat menggembirakan. Menurutnya dengan Model KRPL, petani dan generasi muda dapat menghasilkan sayur mayur untuk keperluan rumah tangga, sehingga menjamin ketersediaan sumber gizi bagi keluarga. "Bahkan bisa menghemat biaya pengeluaran rumah tangga", ujarnya.

Kegiatan tersebut berhasil mendapat respon kaum ibu, bahkan sempat dikunjungi tim penggerak PKK Provinsi Aceh untuk  melihat langsung demplot budidaya tanaman sayuran  dan proses pembuatan roti Sareeku di unit pengolahan hasil.

Nurhayani, wakil ketua Pokja 3 mengapresiasi pertanian  sayuran hidroponik sebagai usaha urban farming. Selain itu, pihaknya juga ingin mengundang BPTP Aceh dan SMK-PP memberikan materi mengenai pengembangan budidaya sayuran di pekarangan untuk mendukung program Kementan. (Syarifah/F)


 

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Untuk memenuhi kebutuhan sayuran di Aceh sudah kerap kali didatangkan dari Brastagi, Sumatera Utara, tapi pasca tragedi meletusnya gunung Sinabung, pasokan sayur mayur untuk Aceh menjadi persoalan khusus dan belum dapat teratasi.

"Walaupun ada dari dataran tinggi Gayo, namun jumlahnya dirasakan masih kurang", kata  Ketua Koperasi Tapuga SPMA Saree, Hamdan disela-sela panen kol bunga dan kubis bersama BPTP Balitbangtan-Aceh di lahan percobaan SMK-PP Saree, Senin (16/4/18).

Melalui kelembagaan koperasi sebenarnya jika dilakukan dengan berkolaborasi bisa menampung semua hasil pertanian milik petani, termasuk yang ada di SMK PP Saree itu sebagai penyangga holtikultura, khususnya sayur-sayuran.

Selama ini katanya, pasokan sayur mayur kebanyakan di datangkan dari luar Aceh. Untuk itu sambung Hamdan, kita mengajarkan para siswa SMK PP Saree  dengan melibatkan BPTP Balitbangtan-Aceh menjadi agen teknologi dalam pengembangan di sektor pertanian, khususnya sayur mayur. "Sehingga kedepan Provinsi Aceh tidak lagi tergantung dengan daerah lainnya" paparnya.

Dikatakannya, untuk menjadikan Saree sebagai penghasil hortikultura dalam meningkatkan sayur-sayuran, sangat diperlukan perhatian dari pemerintah, lembaga koperasi dan dinas/ intansi terkait lainnya menjadikan Saree sebagai daerah pemasok sayur mayur untuk wilayah Pidie, Aceh Besar, dan Banda Aceh.

“Kami baru mulai mengembangkan tanaman kubis dan bunga kol di lahan SMK PP Saree, dan teryata sangat cocok dikembangkan di Saree dan hasilnya pun sangat memuaskan, dan kedepan kita akan mengembangkan tamanan ini lebih luas lagi,”terangnya.

“Kita berharap para siswa-siswi yang lulus nanti bisa menjadi sebagai tenaga-tenaga trampil di bidang budidaya pertanian, dan menguasai teknologi khususnya bidang hortikultura, buah dan lainnya,”pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kerja Sama dan Pelayanan Pengkajian (BPTP) Balitbangtan-Aceh, Abdul Azis mengatakan, kerjasama penyebarluasan inovasi teknologi dengan SMK PP Saree merupakan bagian dari tindaklanjut kerja sama yang telah disepakati kedua lembaga tersebut.

"BPTP Aceh sangat mendukung kegiatan SMK PP Saree dalam hal pendampingan teknologi yang sudah eksis sesuai dengan tupoksi BPTP seperti melakukan pengkajian teknologi spesifik lokasi," katanya saat melakukan panen perdana kubis dan bunga kol di SMK PP Saree.

Untuk itu, pihaknya berharap dengan adanya kerjasama tersebut siswa dan siswi yang belajar di lembaga pendidikan tersebut menjadi agen teknologi dalam pengembangan bunga kol dan kubis saat kembali ke daerah masing-masing. (M. Nasir/F) . 


 

Write comment (0 Comments)
instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google