JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Aktual


User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Seluas 300 ha hamparan padi Inpari 42 siap dipanen dalam minggu ini oleh petani Lhoknga Aceh Besar. Diawali dengan panen di lahan demplot Research Extension Linkages (REL) seluas 1 ha milik petani kooperator Muhibullah, Selasa (16/1) di Desa  Mon Cut Kecamatan Lhoknga.  Hasil ubinan menunjukkan rata-rata produktivitas mencapai 7,83 ton/ ha, sementara kondisi eksistingnya 5 - 6 ton GKP/ha, sehingga terdapat peningkatan produksi sebesar  0,83 - 1,83 ton/ ha.  Sementara harga jual GKP berkisar Rp 4.300 – 5.300/ kg.

Kegiatan REL tersebut merupakan program dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh bekerja sama dengan BPTP Aceh sejak MT Gadu lalu, dilanjutkan MT Rendeng yang dipanen pada Januari 2018. Untuk menjaga lahan demplot aman dari serangan hama burung, para petani harus  memasang dan menutup dengan jaring.

Menurut Nona Evymaulina koordinator kegiatan REL, yang juga Kasie Penyuluhan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh menjelaskan kegiatan tersebut akan terus dilanjutkan di kecamatan lain yang masih membutuhkan dukungan inovasi usaha tani.

Disebutkan teknologi yang diintroduksikan pada kegiatan REL ini antara lain penggunaan benih varietas Inpari 42 Agritan GSR, menanam sistem  Jajar Legowo Super dengan penggunaan pupuk NPK, Urea dan pupuk organik (300, 250, 2000 kg/ha) serta pupuk hayati.

Peneliti BPTP Ismail, S.P, MSi mengatakan, penggunaan varietas Inpari 42 Agritan GSR bertujuan untuk mengganti varietas Ciherang dan Inpari 4 dan 30 yang dinilai petani produktivitasnya kurang memuaskan. Acara panen dan temu lapang tersebut dihadiri Kabid Pertanian Distan Aceh Besar, peneliti dan penyuluh BPTP, Koordinator  BPP Lhoknga, Koordinator Mantan, ketua kelompoktani dan anggota kelompoktani Bahagia (admin/b).


 

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Agenda pembangunan dalam Nawa Cita yang termaktub dalam dokumen RPJMN 2015-2019 menegaskan tentang pentingnya kebijakan, program dan kegiatan yang nyata dan terukur untuk percepatan pembangunan Indonesia.  Nawa Cita mengamanahkan pembangunan dari wilayah pinggir (border) dengan memperkuat pembangunan di wilayah tersebut serta untuk meningkatkan daya saing, dalam hal ini adalah produk-produk pertanian. Teknis percepatan pembangunan pertanian di wilayah perbatasan hanya dapat dilakukan dengan memperkuat kerjasama (sinergi) antar stakeholder dan shareholder serta berkelanjutan.

Pada konteks kewilayahan, Provinsi Aceh merupakan salah satu wilayah yang memiliki perbatasan langsung (laut) dengan beberapa Negara, sehingga menjadi salah satu beranda Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam hal ini difokuskan kepada Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Kawasan ini dipilih karena secara ketahanan pangan (food-security) masih sangat rentan akibat kurangnya sarana dan prasarana. Dengan produktivitas eksisting padi yang hanya 3 ton/ha, maka wilayah ini minus 500 ton/tahun beras dan harus didatangkan dari Banda Aceh. Fakta inilah yang menjadi tantangan untuk setidaknya dalam 1 tahun kedepan dapat terpenuhi (mandiri) dengan melakukan introduksi VUB padi potensi hasil tinggi dan relative tahan kekeringan (ampibi).

 

SELENGKAPNYA KLIK DOWNLOAD


 

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Petani Desa Saney Kecamatan Lhoong Aceh Besar sukses memanen bawang merah varietas Bima Brebes di luar musim (out season), Jumat (5/1) di lahan pesisir pantai yang berjarak sekitar 200 meter dari bibir pantai di bawah binaan Balai Pengkajian teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Aceh. Penanaman demplot bawang merah dilaksanakan oleh Kelompoktani Kreasi Baru, yang anggotanya mayoritas wanita tani.

Menurut Ketua Kelompoktani  Kreasi Baru M. Rizal,  hasil panen demplot bawang merah mencapai 10,50 ton/ ha umbi basah. “Panen kali ini suatu keberhasilan yang luar biasa karena bisa ditanam pada kondisi di luar musim, yaitu pada musim hujan,” ujar Rizal. 

Hal tersebut dibenarkan Rahmat Kurniadi, SP, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lhoong. Dijelaskan, kegiatan demplot yang dilaksanakan di Desa Saney, untuk proses pembelajaran bagi petani, terutama dalam penerapan teknologi di lahan pesisir, seperti seleksi benih, pemupukan, pengendalian hama penyakit dan pascapanen.  Ditambahkan, kegiatan SL-PTT Bawang Merah ini bersumber dana  APBN dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.  Pada umumnya petani bawang merah di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar menanam bawang merah di lahan pesisir.

Sementara itu penyuluh pertanian BPTP Aceh Ir. T. Iskandar, MSi menjelaskan varietas bawang merah Bima Brebes lebih tahan terhadap curah hujan tinggi, terutama di musim hujan pada bulan Oktober - sampai Januari.  “Ini terbukti dari hasil demplot yang dipanen cukup memuaskan,” ucapnya.  Iskandar  menambahkan, luas lahan pesisir yang potensial untuk bawang merah di Kecamatan Lhoong mencapai 25 ha, sedangkan yang sudah dimanfaatkan baru 6 ha.

Pada kesempatan panen yang dirangkai dengan Temu Lapang tersebut, anggota kelompok meminta kepada BPTP Aceh dan lembaga terkait untuk membina lebih lanjut Kelompok Wanita Tani terutama budidaya bawang merah dalam upaya pemberdayaan ekonomi wanita. (Isk/ b).


 

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Aceh, Jumat (5/1) mempresentasikan materi kuliah umum untuk mahasiswa dalam Seminar Bioenterpreneurship yang diselenggarakan oleh Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Darussalam. Pemateri seminar mewakili BPTP Aceh adalah Dr. Rachman Jaya, MSi yang juga Koordinator Program dan Evaluasi.

Dalam paparannya, Rachman menyebutkan fakta bahwa Provinsi Aceh memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, namun belum dimanfaatkan secara maksimal khususnya yang berbasis agribisnis dan agroindustri. Disebutkan, salah satu contoh mendasar yaitu dalam hal pemenuhan benih padi yang sering didatangkan dari provinsi tetangga, hanya sebagian kecil yang dipasok oleh penangkar lokal. “Dengan luas lahan sawah baku di Aceh saat ini mencapai 276,454 ha, maka kebutuhan benih padi sekitar 7.000 ton untuk satu kali musim tanam, dengan asumsi kebutuhan benih 25 kg/ha,” paparnya.

Pada sisi lain sebut Rachman, dengan memproduksi benih, tingkat keuntungannya jauh lebih besar dibandingkan dengan memproduksi gabah. Harga jual gabah rata-rata Rp.4.800/kg, sedangkan harga benih padi bersertifikat berkisar Rp. 8.500-10.000/kg. “Fakta ini baru dilihat dari sub komoditas padi sawah, belum lagi dengan padi gogo (ladang), padi rawa, bahkan komoditas unggulan lainnya seperti kopi, kakao, pala, nilam, kelapa dalam dan lain-lain,” ujarnya.

Menurut alumni IPB Bogor dan peneliti BPTP Aceh ini, peluang tersebut seharusnya bisa diraih oleh masyarakat Aceh sendiri terutama kaum muda, namun mereka harus dibekali wawasan wirausaha. Ini selaras dengan salah satu program pemerintah yakni mencetak wirausaha muda berbasis komoditas pertanian yang umumnya belum diminati oleh kalangan muda.

Sementara itu Wakil Dekan III, Dr. Ismail Ansori, MA dalam arahannya saat membuka seminar tersebut menyampaikan peran strategis bidang keilmuan biologi untuk mendukung pencapaian kedaulatan pangan melalui riset-riset dasar dan terapan, serta pencetakan wirausaha muda. Pemateri lainnya adalah Abdul Satar, seorang petani jamur sukses di Aceh Besar yang juga merupakan binaan BPTP Aceh, serta Diannita Harahap, MSi staf penggajar Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi. (RJ/ b).


 

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Kota Subulusalam tak mau kalah dengan kabupaten lain dalam pembangunan pertanian khususnya swasembada beras. Meskipun luas baku sawah tidak seluas kabupaten lain yaitu 4.084 ha, namun kabupaten pemekaran dari kabupaten Aceh Selatan ini juga memanfaatkan lahan kering untuk menanam padi ladang (gogo).

Jumat (5/1), Dinas Pertanian bersama Babinsa dan kelompoktani Desa Cepu dan Desa Lae Kecamatan Penanggalan melakukan panen seluas10 ha dari luas hamparan 15 hektar di kedua desa tersebut. Suheri SP, MM Kepala Dinas Pertanian Subulussalam menjelaskan pihaknya merasa puas dengan hasil panen padi lading yang ditanam di antara tanaman sawit. Varietas yang ditanam kebanyakan Situ Bagendit yang terkenal tahan kekeringan, sedangkan hasil ubinan menunjukkan produktivitas rata-rata 5,6 ton/ ha. “Kami berharap musim tanam berikutnya pihak BPTP Aceh tetap melakukan pembinaan dan memberikan benih padi unggul baru untuk lahan sawah dan lahan kering,” katanya berharap.

Suheri yang mengaku baru tiga bulan dilantik sebagai kepala Dinas Pertanian bertekad Subulussalam mampu menghasilkan gabah sesuai target. Untuk itu ia akan bersinergi di lapangan terutama untuk memacu tingkat adopsi teknologi dari Badan Litbang Pertanian melalui BPTP Aceh. Desember lalu, Kota Subulussalam ditargetkan luas tanam 160 ha sedangkan Januari 2018 seluas 280 ha.

Deskripsi Situ Bagendit

Menurut Kepala BPTP Balitbangtan Aceh, padi varietas Situ Bagendit termasuk padi gogo yang tahan kekeringan, dilepas tahun 2003 oleh Menteri Pertanian dengan SK 384/Kpts/SR.120/7/2003. “Umur tanaman mencapai 110 – 120 hari sejak persemaian, tinggi tanaman 99 – 105 cm dengan tekstur nasi pulen,” paparnya. Selain itu Situ Bagendit agak tahan terhadap blas dan hawar daun bakteri patotipe III dan IV serta cocok ditanam di lahan kering maupun di lahan sawah. (admin/b).


 

Write comment (0 Comments)
instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google