JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Seminar/Lokakarya

 

Dari Seminar ROPP :

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

BPTP Aceh Harus Siapkan Strategi Khusus

 

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh Ir T. Iskandar MSi  menegaskan kepada seluruh penelti dan penyuluh agar lebih aktif dan memiliki strategi dalam upaya  mempercepat terealisasinya proses penyerapan anggaran 2011.  “Jika tidak, maka tugas kita kedepan akan semakin berat untuk dapat terpenuhi target 50% pada Semester pertama. Harapan kita pada bulan Maret ini harus sudah mencapai 20%”, ujarnya. Hal tersebut disampaikan Iskandar   saat  pengarahan pada Seminar Rencana Operasional Diseminasi Hasil Penelitian dan Rencana Operasional Kinerja Tim Manajemen (RODHP/ROKTM) 2011 di Aula BPTP Aceh Selasa dan Rabu (7-8 Maret 2011).

Ia juga mengingatkan dan mengharapkan kepada masing-masing penanggung jawab kegiatan termasuk Liaison Officer (LO) kegiatan SL-PTT/PSDS/PUAP untuk lebih fokus pada tugas yang diemban, karenatugas tersebut merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan baik.

 

T. Iskandar juga menginformasikan bahwa untuk mendukung kegiatan peningkatan produksi padi di 11 Provinsi termasuk Aceh, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah mengalokasikan anggaran khusus yang harus dimasukkan ke dalam revisi DIPA/POK tahun 2011. “Jadi, perlu kerja keras dan harus cerdas dalam melaksanakan skenerio yang telah disusun”, cetusnya.

Ia juga menekankan kepada penanggung jawab agar tampilan situs web BPTP Aceh dengan home pagenya: http//www.nad.litbang. deptan.go.id yang selama ini sudah cukup baik perlu diupload dengan berita dan artikel-artikel yang lebih menarik lagi maupun tulisan ilmiah yang bermutu. Saat ini menurut Iskandar, situs web BPTP Aceh dikunjungi lebih dari 300 orang setiap harinya, termasuk dari manca negara (Inggris dan Amerika). Untuk itu kata Iskandar, di zaman yang sudah semakin global dan tanpa batas ini,  akses jaringan harus semakin mudah dilakukan dan situs web perlu updating terhadap data termasuk dengan versi bahasa inggris.

Sementara itu, Koordinator Program Ir. Jamal Khalid menambahkan bahwa pelaksanaan seminar dilakukan sebagai bahan monitoring dan evaluasi sebelum dilaksanakan di lapangan. Selain itu, dilanjutkan juga dengan sesion diskusi dan tanya jawab untuk masukan, kritikan dan perbaikan, guna memboboti serta mempertajam operasional kinerja tim yang harus disesuaikan dengan arah dan kebijakan Badan Litbang Pertanian.

Acara seminar yang diawali dengan rapat bulanan tersebut dihadiri sekitar 70 peserta termasuk peneliti/ penyuluh dan seluruh karyawan/ti BPTP Aceh.[Abda/Liamsi]


 

BPTP ACEH GELAR SEMINAR DAN PAMERAN

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh akan menggelar seminar Regional wilayah Sumatera dan pameran agro inovasi tanggal 2 – 5 September 2014 dalam rangka memperingati 40 tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbangtan).

Kepala BPTP Aceh Ir. H. Basri A. Bakar, M.Si mengatakan bahwa seminar sehari yang berlangsung 2 September 2014 adalah untuk menyambut Bulan Bhakti Agroinovasi dengan tema: “Teknologi Spesifik Lokasi melalui Pemanfaatan Sumberdaya Lokal Menuju Pertanian Ramah Lingkungan”. Sedangkan ajang pameran agro inovasi, gelar teknologi dan open house berlangsung 2 - 5 September 2014 di halaman gedung BPTP Aceh dan terbuka untuk umum.

Ditambahkan, tujuan seminar ini, selain mensosialisasikan inovasi teknologi pertanian yang dihasilkan Badan Litbangtan, juga menghimpun berbagai informasi dan umpan balik dari stakeholder, peneliti/penyuluh, akademisi dan praktisi, untuk pengembangan teknologi spesifik lokasi berbasis sumberdaya lokal. “Diharapkan nantinya dapat merumuskan kebijakan dan strategi dalam pemanfaatan hasil penelitian/pengkajian sehingga mempercepat empat target sukses kementerian,” ujarnya.

Menurut rencana seminar akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah. Selain itu acara tersebut juga akan dihadiri Kepala PSEKP mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian. Sedangkan pemakalah utama akan disampaikan oleh Kepala Balingtan Jakenan Pati, Ketua Bappeda Aceh dan Dekan Fak. Pertanian Unsyiah. Acara tersebut terselenggara atas kerjasama BPTP Aceh dan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

Ketua Panitia pelaksana Cut Nina Herlina, S.Pi menjelaskan sampai saat ini jumlah makalah yang masuk ke panitia mencapai 80 buah, terdiri 30 makalah oral dan 50 makalah poster. Beberapa Kepala BPTP dari luar Aceh juga akan hadir pada event tersebut seperti Kalsel, Sulsel, DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan semua BPTP se Sumatera. (Abda/ b)

Kearifaan Lokal Penggembalaan Sapi Aceh di Blang Awe

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Padang penggembalaanBlang Awe merupakan salah satu nama desa di Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya. Selain masyarakatnya rata-rata hidup dari bertani sawah, mereka juga memelihara sapi dalam jumlah banyak. Uniknya, desa ini memiliki aturan tersendiri dalam sistem pemelliharaan sapi. Desa Blang Awe memiliki kawasan kandang yang ditata sedemikian rupa di satu lokasi yang agak terpisah dari rumah penduduk atau kampung. Kandang-kandang tersebut sepintas tampak seperti pemukiman khusus bagi ternak, dan tata cara penggembalaan ternaknya diatur oleh perangkat gampong melalui musyawarah.

Penggembalaan ternak secara bergilir diatur dalam peraturan Gampong yang  harus ditaati oleh pemilik ternak.  Aturan tersebut dikoordinir langsung oleh Keujruen Blang setempat. Keujruen Blang adalah petugas yang ditunjuk oleh masyarakat untuk mengatur sistem usahatani termasuk pengaturan air irigasi dalam sebuah desa atau gampong. Keujruen Blang juga mengatur jadwal penggembalaan ternak melalui rapat gampong ataupun pada pelaksanaan kenduri awal turun sawah.  Biasanya, jika terjadi sengketa atau permasalahan yang timbul, diselesaikan dalam rapat khusus oleh Keujruen Blang bersama Kepala Desa dan tokoh masyarakat.

Kandang sapiMenurut Zulkifi salah seorang warga masyarakat Blang Awe yang akrab disapa dengan Pawang Don, setiap warga desa yang memiliki ternak wajib mengikuti jadwal bergilir tentang penjagaan ternak yang dilakukan oleh tiga orang warga dari jam 08.00 sampai 17.00. Mereka harus bertanggung jawab mulai mengeluarkan ternak dari kandang sampai dengan memasukkan kembali ternak ke dalam kandang. Ketika sapi-sapi sudah kembali ke kandang, para pemilik sapi masing-masing datang menyiapkan pakan berupa rumput-rumputan.

Frekwensi giliran jaga sapi sangat bergantung jumlah kepemilikan ternak. Semakin banyak ternak yang dimiliki, maka jadwal jaga sapi juga bertambah. Jika warga mempunyai 1 ekor sapi dewasa maka wajib mengikuti sekali siklus jaga, jika  2 ekor sapi maka dua kali siklus jaga dan begitu seterusnya. Saat sehabis musim panen padi (Aceh : luah blang), penggembalaan sapi dapat dilakukan pada kawasan sawah yang sudah panen, tetapi penjagaan tetap dilakukan terhadap lahan sawah atau kebun yang ditanami dengan tanaman hortikultura seperti semangka, timun, cabe merah ataupun sayur-sayuran lainnya.

Peternak mengangkut pakanJika sapi melakukan pengrusakan terhadap areal yang ditanami maka  petugas piket penggembalaan harus bertanggungjawab untuk mengganti kerugian yang dialami oleh pemilik tanaman.  “Syaratnya areal penanaman tersebut harus dipagar sehingga tidak dimasuki ternak,” jelas Pawang Don.

Kearifan lokal yang berlaku di Blang Awe mengandung nilai positip. Selain ternak tidak bebas berkeliaran, juga kotorannya mudah dikumpulkan sebagai pupuk organik. M.Yusuf Ali, seorang teknisi BPTP Aceh  berharap model penggembalaan Blang Awe dapat diterapkan di desa lain. Seandainya semua gampong di Provinsi Aceh menerapkan seperti di Blang Awe, mungkin julukan “kandang sapi terpanjang di dunia tidak berlaku lagi. Nur/ Bas

wso shell Indoxploit shell fopo decode kaliteli hacklink adresi hacklink al hacklink panel hacklink satış garantili hacklink  paykasa Google