JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Nilam Aceh Berkualitas Nomor Satu Dunia, Perlu Regulasi dalam Pengembangannya

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
fShare
14

Nilam (Pogostemon cablin) pernah mengalami kejayaan di Provinsi Aceh sejak tahun 1921. Nilam Aceh terkenal di seluruh dunia karena mutunya diakui di tingkat internasional, sehingga tanaman ini mempunyai prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan. Hal tersebut disampaikan Ka. BPTP Balitbangtan Aceh, Ir. Basri A. Bakar MSi saat menghadiri Workshop Diseminasi Sistem Inovasi Daerah (SIDa) di aula Bappeda, Rabu (6/12).

Menurutnya, ada beberapa kendala dalam pembudidayaan Nilam, seperti serangan hama dan penyakit yang mempengaruhi peningkatan produksi. Hama utama yang sangat merusak pertanaman nilam kata Basri, diantaranya ulat daun (Pyralidae). kumbang daun, belalang, pengisap daun dan penggerek batang dan akardan tungau merah.

Pihaknya selama beberapa tahun terakhir telah melakukan kajian terhadap  tiga jenis nilam yakni varietas  Lhokseumawe, Tapaktuan dan Sidikalang. Namun, jelas Basri lagi, nilam Sidikalang lebih resisten terhadap serangan hama penyakit.

Ditambahkan dengan adanya kerjasama yang bersinergi, pihaknya akan mengkaji Indikasi Geografis (IG) dalam pelepasan varietas nilam sebagai komoditas unggulan di Aceh. "Selain Kedelai Kipas Merah Bireuen, Aceh juga telah melepaskan varietas Kopi Gayo 1 dan Gayo 2. Bahkan dalam waktu dekat juga akan dilepas varietas Gayo 3", ujarnya penuh semangat.

Kabid Litbang Bappeda Aceh,  Dr. Ir. Ema Alemena, MP melaporkan peserta SIDa terdiri dari Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), Kepala Bappeda, Kepala BPTP Aceh/peneliti, Kadistanbun, dan Kadistamben, Asisten III Bupati Aceh Jaya, Akademisi, praktisi dan pelaku usaha  serta pengurus koperasi Gerakan Tani Nelayan  Aceh.

Menutut Ema, tujuan kegiatan adalah untuk mensosialisasikan kembali hasil penguatan SIDa PLTH (energi) dan Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Krueng Raya,  Aceh Besar juga Master Plan tanaman nilam. Tujuan lain agar peserta mengetahui manfaat dan kegunaannya sehingga dapat  menghasilkan rumusan dalam mendukung pembangunan  sesuai visi misi Pemerintah Aceh.  Sebelumnya, pihaknya sudah mendampingi kegiatan UPI dan penyusunan master Plan Nilam dengan dinas terkait dan akademis, namun karena sesuatu dan lain hal stagnan dan tidak berjalan sesuai rencana.

Sementara Kabid. Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, SP, MP, menjelaskan pihaknya sangat mendukung program pengembangan nilam di Aceh. Hal ini penting karena nilam Aceh komoditas unggulan spesifik lokasi, sehingga perlu adanya inovasi dan sentuhan teknologi agar produksinya lebih meningkat. ”Namun, pemerintah perlu membuat regulasi untuk menjamin stabilitas harga sehingga petani lebih sejahtera, dalam hal ini  kebijakan pemerintah Aceh khususnya untuk memberikan porsi anggaran yang memadai dalam pengembangan nilam mulai dari hulu sampai hilir sangat diperlukan,” pintanya. Selain itu perlunya sistem budidaya yang ramah lingkungan, karena umumnya petani nilam suka dengan ladang berpindah. Hal ini juga dipengaruhi faktor bila lebih dari 3 kali tanam pada lokasi yang sama, umumnya bisa  mengundang "penyakit buduk", nematoda, busuk akar dan lainnya.  (Idawani/ b)

instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google