JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Tingkatkan Pemahaman Iklim Dukung Ketahanan Pangan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
fShare
13

Dampak perubahan iklim terhadap pertanian sangat penting diketahui karena iklim dapat mempengaruhi produksi dan hasil panen. Kekeringan dan banjir masih merupakan ancaman serius bagi petani. "Untuk itu, kita perlu tingkatkan pemahaman iklim guna mendukung ketahanan pangan", papar Kepala Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Drs. Herizal, MSi pada acara Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II Tahun 2018 yang dilaksanakan di Hotel Oasis, Banda Aceh, Senin malam (19/418).

Menurutnya, pertanian tidak terlepas dari penggunaan bibit, lahan dan irigasi yang masih dapat dikendalikan, namun iklim tidak dapat dikendalikan,  SLI kerjasama antara BMKG dengan penyuluh pertanian dan petani untuk memahami kondisi iklim.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Iklim ekstrem merupakan salah satu penyebab penurunan produksi dan kegagalan panen, sementara informasi iklim BMKG tidak mudah dipahami, karena banyak mengandung istilah teknis, wilayah prakiraan terlalu luas dan belum spesifik lokasi.

Untuk itu kata Deputi Herizal perlu dilakukan peningkatan pengetahuan personil penyuluh lapang dan petani tentang iklim, karena pemahaman informasi iklim masih sangat terbatas. “Padahal, penyuluh lapang pertanian sebagai mediator (extension) sangat potensial untuk mentransfer pengetahuan iklim ke petani”, ujarnya.

Ditambahkan pula bahwa pelatihan adalah suatu proses agar peserta mampu dan terampil memahami informasi iklim beserta dampaknya terhadap kegiatan pertanian, serta dapat  melakukan berbagai upaya dalam antisipasi dan adaptasi terhadap adanya variabilitas ataupun iklim yang ekstrem.

Diharapkan, usai mengikuti pelatihan ini peserta mempunyai kapasitas dalam melakukan pelatihan atau transfer pengetahuan kepada penyuluh lain dan atau kelompok petani, sehingga pada akhirnya semakin banyak petani yang mempunyai kesadaran terhadap adanya variabilitas atau iklim ekstrem serta dampaknya pada kegiatan usahatani mereka.

Sementara, Abdul Azis, S.Pi.,M.P mewakili Kepala BPTP  Balitbangtan-Aceh menyampaikan terimakasih atas kerjasama yang telah dirintis sejak 2011. Wujud dari kerjasama tersebut, pihaknya telah melakukan sejumlah kajian demplot terkait hasil inovasi teknologi Balitbangtan seperti penggunaan varietas yang adaptif di lahan kering.

Hubungan kerjasama yang telah berjalan baik perlu ditingkatkan dengan melibatkan peneliti dan penyuluh. Khususnya pengoperasian  tiga alat  pengukur curah hujan yang ditempatkan pada tiga lokasi yaitu Kebun Percobaan (KP) Lampineung, KP. Paya Gajah dan KP. Gayo Bener Meriah. "Dengan mengupgrade ketiga alat tersebut, maka data yang diperoleh memiliki validitas tinggi dan terpercaya", pintanya.

Sebelumnya, ketua panitia Wahyuddin melaporkan bahwa kegiatan ini ajang tahunan sudah berjalan selama delapan tahun dan telah menghasilkan alumni 308 orang. Tujuannya agar peserta mampu dan terampil dalam memahami informasi iklim dan dampaknya terhadap kegiatan pertanian, sehingga dapat melakukan berbagai upaya antisipasi dan solusi.

Acara tersebut dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD) turut dihadiri KSPP BPTP Balitbangtan-Aceh, Dekan FP Unsyiah, dinas/ instansi terkait serta 30 penyuluh lapang se kabupaten/ kota Provinsi Aceh. (Samsul B)