JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

BPTP Aceh dampingi Tim  Kementan Lakukan FGD Pemetaan Potensi Pala Berbasis Kawasan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
fShare
0

Tapaktuan,  Pala (Myristica fragrans, Hout) sebagai salah satu tanaman perkebunan dan merupakan tanaman rempah khas Indonesia telah dikenal sejak abad ke-16. Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, komoditas ini telah menjadi tanaman budaya di beberapa wilayah nusantara. Tanaman pala tersebar di kepulauan Banda (Maluku), Papua, Aceh dan Sumatera Barat.  Pala memiliki peran strategis yang dapat mendukung perekonomian masyarakat untuk lebih baik, serta keberadaannya memberi dampak terhadap lingkungan. Secara ekonomis, tanaman pala menjadi salah satu penunjang untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Saat sekarang harga Pala kering terus naik, Rp. 28.000 s/d Rp. 32.000/kg, sangat menjanjikan bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Demikian juga dengan harga minyak Pala, di Aceh Selatan dalam sebulan terakhir mengalami lonjakan dari Rp. 650.000/kg menjadi Rp 800.000/kg, harga tertinggi yang diterima oleh pedagang pengumpul/petani mencapai Rp. 1.050.000/kg.

Kebun Pala mengalami masalah serangan hama dan penyakit, cabang dan pucuknya kering dan beberapa hari kemudian langsung mati . Hama penggerek batang dan bubuk cabang serta jamur menyerang tanaman pala  sejak 1990-an. Kelihatannya  belum ada obat yang manjur menahan laju kehancuran pala yang berimbas pada penurunan produksi biji dan minyak. Pemerintah dan berbagai lembaga terus berupaya mengidentifikasi masalah kematian Pala serta mencari solusi pemecahannya. Pengendalian hama dan penyakitpun telah dilakukan walau upaya tersebut belum dapat dikatakan sangat efektif, masih perlu riset khusus hingga ditemukan formula efektif pengendalian hama dan penyakit komoditas ini. Beberapa Universitas sudah pernah berupaya mencarikan solusi terhadap penyakit ini namun belum ada hasil yang memuaskan, terakhir Prof. Loekas Susanto dari Universitas Soedirman mencoba penanganan Jamur Akar Putih (JAP), dengan Metabolit Sekunder (MS) dengan metode inpus memberikan hasil yang memuaskan namun aplikasinya agak rumit di lapangan. Formula metabolit sekunder : air cucian beras 2 bagian, air kelapa 1 bagian kemudian dipanaskan. Setelah dingin ditambahkan gula 3 sendok makan dan isolat Trichoderma harzianum 20-30 gram,  selanjutnya di fermentasi selama 21 hari dalam kondisi aerob. Forum Pala Aceh (FPA) juga telah melakukan usaha preventif dengan mengembangkan Pala Sambutan (batang bawah Pala Hutan dan entres Pala Lokal) yang menurut FPA bisa mencegah serangan JAP.

Selanjutnya Peneliti dari BPTP Aceh Dr. Rachman Jaya mengungkapkan problema yang terjadi dewasa ini adalah hama dan penyakit yang merusak tanaman Pala. Siklus kehidupan makhluk hidup (hama/penyakit) saat ini mulai terganggu akibat punahnya musuh alami, dampak ulah tangan manusia yang mengelola ekosistem tidak seimbang. “Maka ke depan dengan adanya pelatihan  dan bimbingan langsung kepada petani pelaksana, diharapkan dapat menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan.  Rachman Jaya menambahkan bahwa dalam waktu dekat BPTP akan membantu pendaftaran varietas Pala lokal dan Pala hutan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PPVT). Lebih jauh disampaikan, keberhasilan kegiatan ini sangat tergantung dukungan dari berbagai pihak,  “Kita sangat mengharapkan dukungan penuh dari Pemda".

Peneliti dari BBSDLP Dr. Erna Suryani, mengatakan tujuan tim kementan ke Aceh Selatan adalah untuk menyusun peta 1:50.000  yang merupakan data dasar yang digunakan untuk perencanaan potensi pengembangan tanaman pala berbasis kawasan, hingga diketahui luasan pala secara spasial, permasalahan, rekomendasi, serta tindak lanjut, join komunikasi dan kerjasama pemerintah pusat dengan daerah. Ema mengharapkan agar pemda melakukan action plan di kabupaten berdasarkan RPJM berbasis kawasan renja-renstra dengan melibatkan seluruh kelompoktani hulu sampai hilirnya (Adm/Liamsi/Ismi/F).