JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Aplikasi Rhizobium Pada Tanaman Kedelai

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
fShare
2

Oleh : Abdul Azis

Rhizobium berperan penting terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai. Nitrogen yang diperlukan tanaman kedelai selain bersumber dari dalam tanah juga dari N atmosfir melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium. Bakteri ini membentuk bintil akar (nodul) pada akar tanaman kedelai dan dapat menghambat N dari udara. Hasil fiksasi nitrogen ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan N yang diperlukan oleh tanaman kedelai.

Sampai saat ini budidaya kedelai umumnya masih dilakukan di lahan sawah setelah tanaman padi.  Demikian pula halnya dengan di daerah Aceh, kedelai sangat jarang dibudidayakan di lahan kering, selain juga produksinya sangat rendah.    Produktivitas kedelai pada lahan kering di tingkat petani  berkisar antara 0,7 ton/ha - 1,0 t/ha (Sudaryono, 2002). Lebih lanjut Sunarlin (1994) menyatakan bahwa tingkat produksi yang relatif masih rendah ini selain disebabkan faktor varietas juga disebabkan oleh rendahnya kesuburan tanah terutama kadar C-organik, N,P dan K.

Umumnya Nitrogen yang diperlukan tanaman kedelai bersumber dari dalam tanah juga dari N atmosfir melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium.  Bakteri ini membentuk bintil akar (nodul) pada akar tanaman kedelai dan dapat menambat N dari udara.  Hasil fiksasi nitrogen ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan N yang diperlukan oleh tanaman kedelai.  Pada fiksasi yang efektif 50-75% dari total kebutuhan tanaman akan nitrogen tersebut dapat dipenuhi (Pasaribu  et al., 1989).

Keuntungan menggunakan inokulan (Rhizobium) adalah dari sebagian N yang ditambat tetap berada dalam akar dan bintil akar yang terlepas ke dalam tanah, nitrogen tersebut akan dimanfaatkan jasad lain dan berakhir dalam bentuk ammonium dan nitrat. Apabila jasad tersebut mati maka akan terjadi pelapukan, amonifikasi dan nitrifikasi, sehingga sebagian dari N yang ditambat dari udara menjadi tersedia bagi tumbuhan itu sendiri dan tumbuhan lain di sekitarnya (Soepardi, 1983). Simarmata (1995) mengemukakan bahwa penggunaan berbagai pupuk hayati pada lahan marginal di Indonesia ternyata mampu meningkatkan ketersediaan hara dan hasil berbagai tanaman antara 20-100%, serta dapat menekan pemakaian pupuk buatan dan meningkatkan efisiensi pemupukan. Pasaribu et al. (1989) juga mengemukakan bahwa peningkatan hasil kedelai jelas terjadi dengan mengadakan inokulasi Rhizobium japonicum. Selain itu bakteri Rhizobium mempunyai dampak yang positip terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Alexander, 1977), serta memiliki wawasan lingkungan.

Percobaan-percobaan terdahulu menunjukkan bahwa inokulasi pada tanaman kacang-kacangan memberikan peluang yang cukup besar untuk meningkatkan produksi kacang-kacangan tersebut baik kualitas maupun kuantitas, juga mengurangi penggunaan pupuk buatan (Singleton dan Taveres, 1986), namun dalam kehidupannya bakteri Rhizobium menunjukkan perbedaan kecocokan, baik terhadap varietas tanaman maupun lingkungan tempat tumbuh. Tingkat kecocokan suatu biak Rhizobium dapat terlihat dari kemampuan menginfeksi tanaman inang, kemampuan system simbiosis dalam menambat N udara serta tanggapan pertumbuhan tanaman inang (Usman,1983; Yutono, 1985). Selain itu keberhasilan suatu galur inokulan yang diberikan juga tergantung pada kemampuannya berkompetisi dengan Rhizobium asli (indigenous) yang ada di dalam tanah, dan mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan (Frederick,1975). Oleh karena itu perlu dilakukan suatu usaha seleksi biak Rhizobium untuk mendapatkan biak Rhizobium yang efektif, efisien dan sekaligus mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya, sehingga diperoleh simbiosis yang optimal.

 Aplikasi Rhizobium pada Tanaman Kedelai

Dari pengkajian yang dilakukan tahun 2013, menunjukkan bahwa jumlah cabang per tanaman berbeda nyata  pada masing-masing perlakuan akibat aplikasi rhizobium. Varietas Anjasmoro memiliki jumlah cabang lebih banyak baik pada umur 75 HST, tidak berbeda nyata dengan varietas Grobogan. Hal ini disebabkan oleh kondisi iklim terutama curah hujan yang sangat tinggi pada saat umur tanaman 60 HST, kondisi tanah jenuh air sehingga akar tanaman kedelai tidak dapat berkembang.

   Jumlah polong hampa menunjukkan bahwa prosentase polong hampa terbanyak  dijumpai pada paket teknologi petani (tanpa rhizobium) tetapi tidak berbeda nyata dengan paket teknologi introduksi, Hal ini menunjukkan bahwa pengisian polong dipengaruhi oleh tingkat kesuburan tanah. Berdasarkan PUTS dan PUTK, tanah di lokasi pengkajian  (lahan kering), status haranya rendah (N rendah, P sedang dan K rendah).

Selengkapnya Klik Download.