JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Mengenal Teknologi Panen Kedua Tanaman Padi

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
fShare
2

Oleh : Abdul Azis

Usahatani padi di Indonesia masih menjadi tulang punggung perekonomian pedesaan. Pengadaan produksi beras dalam negeri sangat penting dalam rangka keberlanjutan ketahanan pangan nasional dengan sasaran tercapainya swasembada pangan (beras). Peningkatan penduduk mengakibatkan kebutuhan akan pangan (beras) semakin tinggi. Tidak kalah penting adalah terjadi perubahan iklim gobal menjadi ancaman terhadap peningkatan produksi dan ketahanan pangan. Pertanian merupakan sektor paling rentan terhadap perubahan iklim.

Tanaman padi dan palawija merupakan komoditas penting di Provinsi Aceh sehingga menjadi prioritas dalam menunjang program pertanian dan ekonomi masyarakat. Produksi padi 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 3,44 %/tahun, dari 60,32 juta ton GKG pada tahun 2008 menjadi 68,96 juta ton GKG pada tahun 2012 (ARAM II BPS) sedangkan laju peningkatan produktivitas mencapai 1,14%/tahun dan luas panen meningkat rata-rata 2,26 %/tahun (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2013). Sedangkan target produksi padi Nasional yang dicanangkan Pemerintah pada 2013 adalah 72,06 juta ton GKG (Puslitbangtan, 2012). Adapun produksi padi di Provinsi Aceh tahun 2013 adalah 1,79 juta ton GKG dengan produktivitas 46,19 Kw/ha (BPS Aceh, 2012). Hal ini dinilai masih rendah dibandingkan produksi nasional. 

Upaya peningkatan produksi beras nasional dihadapkan pada masalah cekaman biotik dan abiotik yang dapat mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Tanaman padi dapat beradaptasi pada beragam agroekosistem, antara lain lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, lahan kering (gogo), dan lahan rawa. Pola tanam yang dilakukan petani masih dua kali tanam setahun pada lahan beririgasi teknis dan satu kali tanam di lahan tadah hujan. 

Pada lahan sawah tadah hujan pola tanam yang biasa dilakukan petani adalah padi-bera-padi. Setelah menanam padi memberakan lahannya, kondisi ini diakibatkan ketidaktersediaan air ketika masuk musim tanam (MT) gadu. Faktor lain adalah kesibukan oleh kegiatan panen, maupun kegiatan lainnya diluar kegiatan pertanian. Akibatnya, nilai produktivitas lahan dan pendapatan menjadi menurun, padahal mereka dapat memanfaatkan panen kedua (ratoon) tersebut.

Salah satu upaya peningkatan produktivitas dan pendapatan adalah dengan memanfaatkan tanaman kedua (ratoon) pada padi sawah. Ratoon adalah tunas yang tumbuh pada batang tanaman padi yang telah dipanen. Pemanfaatan tanaman ratoon dapat produksi per unit luas dan per unit waktu. Waktu untuk berproduksi tanaman ratoon lebih pendek jika dibandingkan dengan penanaman kembali serta tidak memerlukan areal baru (Chauhan, Vergara, dan Lopez et al Rahman Nuris, 2004). 

Sejalan dengan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka perlu adanya inovasi baru untuk memacu peningkatan produktivitas padi dan sekaligus peningkatan pendapatan bagi petani melalui pemanfaatan dan optimalisasi lahan pasca panen/panen kedua (ratoon). 

Selengkapnya Klik Download.


 

wso shell Indoxploit shell fopo decode kaliteli hacklink adresi hacklink al hacklink panel hacklink satış garantili hacklink  paykasa Google