JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknik Roguing dan Pemeriksaan Lapang Pada Tanaman Kedelai

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 
fShare
5

Oleh :  Cut Maisyura /Penyuluh Pertama 

Salah satu target sukses pembangunan pertanian adalah tercapainya swasembada lima pangan pokok yang salah satunya adalah kedelai. Sebagai sarana produksi yang membawa sifat-sifat varietas tanaman, benih berperan penting dalam menentukan tingkat hasil yang diperoleh. Varietas unggul kedelai umumnya dirakit untuk menghasilkan sifat-sifat yang menguntungkan , antara lain : 1) Daya hasil tinggi, 2) tahan terhadap hama penyakit, 3) umur genjah, dan 4) mutu hasil panen sesuai dengan keinginan konsumen. (Nugraha dan Hidajat 2000).

Pemilihan varietas yang akan ditanam adalah kegiatan rutin paling awal yang dilakukan petani, dan merupakan keputusan yang paling penting. Varietas unggul merupakan salah satu teknologi penting untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani kedelai. Sampai tahun 2014, pemerintah telah melepas 83 varietas unggul kedelai. Varietas-varietas unggul tersebut memiliki keragaman karakter,  potensi hasil, umur panen, ukuran biji, warna biji, cekaman biotik/abiotik, dan lingkungan adaptasi. Melalui pemahaman karakteristik varietas unggul kedelai yang ada diharapkan dapat memperluas pilihan varietas bagi pengguna dan dapat meningkatkan tingkat adopsi varietas unggul dan produktivitas, yang akhirnya diharapkan dapat meningkatkan produksi kedelai nasional.

Varietas unggul merupakan komponen teknologi yang mudah diadopsi petani sehingga sangat strategis dalam upaya peningkatan produktivitas. Sumbangan varietas unggul terhadap peningkatan produktivitas tanaman budidaya telah dapat dirasakan, tetapi secara terpisah sulit dikuantifikasi (Baihaki, 2002). Peran varietas unggul tersebut secara tidak langsung dapat dilihat dari peningkatan rata-rata produktivitas nasional dari 0,94 t/ha pada tahun 80-an menjadi 1,26 t/ha pada tahun 2000-an. Oleh karena itu, ketersediaan benih bermutu menjadi salah satu faktor utama dalam mendukung kecepatan penyebaran varietas unggul.

Benih bermutu adalah benih yang mempunyai tingkat kemurnian tinggi dan mampu berkecambah dengan baik pada kondisi normal. Mutu benih dapat dibedakan menjadi mutu fisik, mutu genetik dan mutu fisiologis.  Mutu fisik adalah mutu benih yang berkaitan dengan kondisi fisik benih seperti keutuhan biji, keseragaman warna dan ukuran biji serta kebersihan. Mutu genetik adalah mutu benih yang berkaitan dengan kebenaran jenis dan varietas yang dapat dinilai dari tingkat campuran dengan jenis atau varietas lain. Mutu fisiologis adalah mutu benih yang berkaitan dengan viabilitas dan daya kecambah benih.

Pemeriksaan lapang

Pemeriksaan lapang adalah suatu kegiatan untuk mengetahui mutu benih dari suatu unit penangkaran dengan mengevaluasi  kesesuaian sifat morfologis tanaman terhadap deskripsi varietas yang dimaksud. Pemeriksaan lapang dilakukan terhadap seluruh populasi tanaman dan pada  semua tingkat kelas benih. Pemeriksaan lapang dilakukan minimal tiga kali, yaitu pada fase kecambah, fase berbunga, dan pada fase masak. Pada saat pemeriksaan lapang  inilah sekaligus dilakukan roguing  untuk membuang tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas yang akan diproduksi benihnya.

Roguing Tanaman

Salah satu tahapan penting menyiapkan benih bermutu adalah pengawasan pelaksanaan proses produksi di lapang, salah satunya adalah kegiatan rouging. Roguing adalah kegiatan mengidentifikasi dan menghilangkan kegiatan yang menyimpang. Rogue (tipe simpang) adalah semua benih atau tanaman yang menyimpang dari sifat-sifat suatu varietas  sampai di luar batas kisaran yang telah ditetapkan . Rogue bisa berasal dari campuran fisik benih varietas lain,  tanaman lain, atau gulma. Tujuan roguing adalah untuk mempertahankan kemurnian dan mutu genetik suatu varietas.

Untuk membedakan tipe simpang dengan tipe normal maka harus diketahui karakretistik dari suatu varietas, oleh karena itu produsen benih atau pelaksana roguing harus mengenali dan mengetahui karakteristik dari varietas dengan baik, termasuk faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap varietas tersebut.

 Waktu dan cara melakukan Roguing

Roguing dilakukan secara berulang dan sistematik. Roguing pada tanaman kedelai dilakukan minimal tiga kali, yaitu pada fase kecambah (juvenil), fase berbunga, dan fase masak. Roguing harus dilakukan dari tanaman ke tanaman secara sistematik.

 Fase Juvenil (Kecambah)

Roguing pada fase ini dilakukan pada saat tanaman berumur sekitar 10-12 hari setelah tanam (V1-V2). Indikator utama yang amati pada fase ini adalah warna hipokotil dan bentuk daun. Kedelai hanya memiliki warna hipokotil  hijau/putih dan ungu.

Hipokotil hijau akan di ikuti dengan warna bunga putih, sedangkan, Hipokotil ungu akan di ikuti dengan warna bunga ungu. Kedelai berbiji besar biasanya mempunyai dua daun tunggal berukuran besar. Jika terdapat tanaman yang menyimpang dari dari deskripsi yang benar, maka tanaman tersebut harus di cabut.

        

       

Jika ada tanaman yang berbeda dari deskripsi varietas yang di usahakan,maka tanaman tersebut harus dibuang. 

Selain warna hipokotil, salah satu indikator lain yang bisa diamati pada fase ini adalah jumlah dan ukuran daun tunggal pada kecambah. Pada varietas kedelai berbiji besar seperti Anjasmoro dan Grobogan biasanya ditandai dengan dua daun tunggal berukuran besar.

  1. Fase Berbunga

Indikator utama melakukan roguing pada fase ini adalah pengamatan pada warna bunga, tetapi jika masih ragu bisa digunakan indikator morfologi lain seperti bentuk daun, warna daun , warna bulu dan bentuk tanaman secara keseluruhan; atau umur berbunga. Tanaman dengan umur berbunga menyimpang jauh dari kelompoknya, lebih baik dibuang. Cabut tanaman yang dianggap menyimpang dari deskripsi varietas yang benar.

        

 

Contoh : Varietas Grobogan mempunyai warna bulu pada batang berwarna coklat,  sedangkan varietas Anjasmoro mempunyai bulu pada batang yang berwarna putih, maka jika kita jumpai hal seperti ini pada pertanaman varietas Anjasmoro yang kita usahakan, maka tanaman tersebut harus di cabut.

Tipe Percabangan

 

Tipe Pertumbuhan  

Tanaman kedelai memiliki tiga tipe tumbuh, yaitu : determinit, semi determinit, dan indeterminit. Tipe determinit adalah tanamantegak, berbunga serempak. Setelah tercapai fase pembungaan tidak ada pertumbuhan tunas-tunas baru.  Tipe indeterminit adalah tanaman menjalar, bunga muncul bertahap. Setelah pembuangan masih ada pertumbuhan tunas-tunas baru. Tipe semi determinit adalah tanaman tegak, tetapi pembungaan tidak serempak.   Tipe pertumbuhan ini dapat diamati pada saat 50 % tanaman berbunga.     

 III. Fase Masak

Rogoing pada fase ini merupakan pemeriksaan lapang terakhir. Indikator pemeriksaan adalah karakter bentuk tanaman, warna, bentuk dan ukuran polong, warna dan kelebatan bulu pada polong, tipe tumbuh, serta umur masak tanaman. Tanaman yang dianggap menyimpang dari deskripsi varietas yang benar harus dicabut. 

 

Karakteristik Polong

 Warna kulit polong coklat

Warna kulit polong pada tanaman kedelai beragam dengan intensitas warna coklatmulai lemah, sedang. Dan kuat, yaitu berwarna sangat muda hingga coklat tua, dari krem sangat muda hingga coklat tua. Warna kulit polong diamati pada saat polong matang penuh atau 95 % polong telah matang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Baihaki, A. 2002. Reviev Pemulian Tanaman dalam Industri Perbenihan di Indonesia. Hlm 1-6 dalam E. Murniati et al. (Penyunting). Industri Benih di Indonesia. Laboratorium Ilmu dan Teknolog Benih, IPB, Bogor. 

Balitbangtan. 2009. Pedoman Umum PTT Kedelai. Jakarta. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. Panduan dan materi pelatihan Produksi Benih sumber kedelai bagi Penangkar dan petugas perbenihan. Banda aceh, 25-27 November 2014.

Badan Litbang Pertanian. 2011. Pedoman Umum unit Pengelola Benih Sumber Tanaman (UPBS). Badan Litbang Pertanian. Kementrian Pertanian.

Hidajat JR, Harnoto, M Mahmud, Sumarno. 2000. Teknologi Produksi benih Kedelai. Pusat Penelitian dan pengembangan tanaman Pangan.

Kementrian Pertanian. 2013. Panduan Roguing Tanaman dan Pemeriksaan Benih Kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Nugraha, U.S. 1989. Produksi Benih. Seed Technology Training for Researchers, IPB, Bogor 4-16 Desember 1989. 

 

Selengkapnya Klik Download.


 

instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google