JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Pengendalian Cekaman Air Pada Komoditi Padi Dan Kedelai

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
fShare
0

Oleh: Saiful Helmy dan Basri A. Bakar

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan adalah suatu strategi pengelolaan ekosistem alamiah sebaik mungkin sehingga kapasitas fungsionalnya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan manusia tidak rusak, namun, Kemajuan pembangunan seringkali mengabaikan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan. Akibatnya banyak wilayah-wilayah tangkapan air (catchment area) yang rusak dan perlu dipulihkan kembali /restorasi (Abdul Razak, 2007).

Air  merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam kegiatan usaha  pertanian. Kehadiran air sepanjang tahun  sangat diharapkan  petani, namun pengaruh musim  ketersediaan air jadi terbatas. Cekaman air adalah suatu keadaan dimana kandungan air tanah paling sedikit sehingga akar tanaman tidak mampu menghisapnya dan tanaman akan layu dan mati (titik layu permanen).

Maha suci Allah yang telah menciptakan hujan, karena dengan hujan tanah-tanah tandus kembali subur dan menumbuhkan banyak tanaman, sebagai mana firman Nya dalam surat Al-Hajj 22:5 yang artinya : “Kamu lihat bumi ini kering kemudian apabila telah Kami turunkan hujan di atasnya hiduplah bumi itu dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.

Dengan turunnya hujan proses penggemburan partikel-partikel tanah pun berlangsung. Proses ini pertamakali diperkenal oleh ilmuwan inggris bernama Brown pada tahun 1827 M yang menyatakan bahwa ketika  hujan jatuh ke tanah maka tanah menjadi gembur sehingga butiran-butiran tanah menjadi subur. Ukuran  butiran tanah beragam, yang terbesar adalah 3 milimeter dengan kandungan mineral yang berbeda-beda, tersusun bertingkat-tingkat satu sama lain. Hujan membuat partikel ini mengandung muatan listrik yang berbeda dari satu mineral kemineral lainnya pada masing-masing butiran. Karena perbedaan mineral dan muatan listrik yang dikandungnya membuat partikel-partikel ini saling menjauh  sehingga butiran tanahpun bergetar yang menyebabkan prosep penyerapan air berlangsung dengan mudah diantara lapisan mineral, lalu lapisan mineral itupun terangkat kepermukaan tanah.

Tingkat ketersediaan air tanah sangat ditentukan oleh fraksi tekstur struktur tanah, kandungan bahan organik tanah dan kedalaman perakaran tanaman, seperti pada tebel 1.

Table 1. Kandungan dan jumlah air tersedia didaerah perakaran berdasarkan   tekstur  tanah   Tekstur

 

Kandungan air

Air tersedia

Kedalaman perakaran (cm)

KL (% isi)

TLP (% isi)

(% isi)

Mm

Pasir

10

3

7

70

100

Debu

30

10

20

300

150

Lempung

35

15

20

150

75

Liat

45

30

15

75

50

Keterangan : KL = Kapasitas Lapang                  TLP = Titik Layu Permanen

Sedangkan penggolongan kapasitas air tersedia (avalaible moisture capacity) adalah seperti table 2.

Tabel 2. Kriteria Penggolongan kapasitas air tersedia (avalaible moisture capacity)

Tingkat kapasitas air tersedia

Air tersedia sampai kedalaman 150 cm  (% isi)

Sangat rendah

<5

Rendah

5-10

Sedang

11-15

Tinggi

16-20

Sangat tinggi

>20

Kedelai tergolong tanaman yang diusahakan pada lahan kering dengan kondisi tanah di bawah kapasitas lapang, yang berarti masih dalam batasan air tersedia dan bukan pada kondisi kekeringan yang tersebut diatas.

Masing-masing jenis tanaman yang tergolong dalam kelompok palawija mempunyai batasan-batasan ketersediaan air tertentu, demikian juga halnya pada setiap varietas mempunyai batasan-batasan tertentu  pula.

Ketersediaan air tanah ini sangat tergantung kepada musim suatu daerah. Sekitar 59 % wilayah Indonesia mempunyai bulan basah lebih dari 7 bulan dengan curah hujan > 200 mm/bulan. Sebalik nya sekitar 9 % wilayah yang mempunyai bulan basah kurang dari 3 bulan (Oldman dan Las 1988; Las et al 1991). Dalam hal ini daerah NTT dan NTB.  Jika dikaitkan dengan kebutuhan air tanaman semusim dan sayuran, sekitar 90 % wilayah Indonesia mempunyai musim tanam (growing season) lebih dari 8 bulan setahun dengan curah hujan > 100 mm/bulan (Abdurrahman at al 2000). Dalam hal ini termasuk Provinsi Aceh.

Suharsono et al., (1986) menyatakan bahwa berdasarkan analisis neraca air wilayah diduga bahwa periode air tidak tersedia (defisit) pada daerah yang curah hujannya  relatif  rendah di Sumatera, umumnya terjadi pada bulan Agustus-September. Kemudian akibat adanya indikasi gejala penyimpangan (anomali) iklim, baik El-nino maupun La-nina semakin sering terjadi, maka perkiraan musim sering meleset. Untuk mengantisipasi kegagalan usaha tani,  khususnya padi dan kedelai akibat kekeringan tersebut dicari beberapa alternative usaha pengendaliannya.

PENGARUH KEKERINGAN TERHADAP TANAMAN PADI DAN KEDELAI.

Tanaman Padi

Pengaruh kekeringan pada tanaman padi  lebih jelas terlihat  pada padi gogo, karena padi sawah dibudidayakan dalam kondisi basah. Hal ini  terjadi bila penanaman dilakukan tidak tepat waktu. Oleh karena itu keberhasilan usaha tani padigogo sebagian besar terletak pada ketepatan waktu tanam sesuai dengan pola tanam wilayah setempat berdasarkan type iklim (Puslitbangtan, 1995).

Asadi, (1991) menyatakan bahwa masa kritis tanaman padi gogo terhadap kekeringan ditemui pada stadium anakan, inisiasi malai dan pengisian biji. Pada stadium anakan dengan ciri-ciri menggulung dan layunya daun kemudian terjadi peningkatan hidrolisis protein dibarengi peningkatan asam amino, selanjutnya jumlah anakan berkurang, pertumbuhan terhambat, masa vegetatifnya  panjang. Pada stadium pembentukan malai dan pembungaan  ditandai dengan ciri  tertundanya keluar malai, proses pembungaan terganggu karena pertumbuhan tangkai sari tidak sempurna dan tingginya persentasi hampa gabah.

Tanaman Kedelai

Penetrasi akar tanaman kedelai kedalam tanah apabila tidak ada gangguan dapat mencapai kedalaman 150-180 cm. air tanah dapat masuk kedalam akar secara pasif  dan aktif. Pengaruh kekeringan terhadap kedelai  pada setiap periode pertumbuhan  disajikan pada table 3.

Tabel 3. Periode pertumbuhan  tanaman kedelai akibat kekeringan.

Stadium pertumbuhan

                       Akibat kekeringan

1. Pertumbuhan aktif

       Pertumbuhan daun terhambat dan keguguran pada            cabang bawah

2. Pembungaan

      Derajat kerontokan bunga tinggi

3. Pembentukan polong

      Pembentukan polong terhambat dan keguguran        polong muda.

4. Pengisian polong

Mengurangi jumlah dan kepadatan biji.

Sumber : Mederski et al. 1973

Kebutuhan air untuk kedelai berfariasi menurut pertumbuhannya, sesuai dengan table 4.

Tabel 4. Kebutuhan air pada tanaman kedelai umur 85 hari pada setiap periode    tumbuh.

Stadium tumbuh

Periode (hari)

Kebutuhan air (mm/periode)

Pertumbuhan awal

15

53-62

Vegetatif aktif

15

53-62

Vegetatif aktif-Pengisian polong

35

124-143

Pematangan biji

20

70-83

Sumber : Kung. P., 1971

BEBERAPA ALTERNATIF PENGENDALIAN KEKERINGAN.

Pengendalian kekeringan adalah usaha yang dilakukan untuk  mengurangi  rentang waktu  pengaruh kekeringan terhadap tanaman atau memperlambat kehilangan air tanah yang dibutuhkan tanaman. Menurut Dedi Nursyamsi (2014), Beberapa alternative  dapat dilakukan antara lain :

  1. Menerapkan pola tanam yang tepat sesuai katam terpadu.
  2. Pemanfaatan lahan basah (wetland) atau dikenal dengan istilah Food Smart Village  yaitu: a. Embung yang  menampung air limpahan permukaan pada saat hujan dan digunakan saat kemarau. b. pemanfaatan air tanah dengan menggali sumur atau pompanisasi.
  3. Teknologi pengelolaan lengas tanah. Adalah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman, antara lain: a. Teknologi pengolahan tanah terbatas atau tanpa olah tanah. b. Teknologi pemberian  bahan organik (mulsa) untuk meningkatkan kapasitas lapang.   Seperti,  serasah sisa tanaman, serbuk gergaji, jerami, daun-daunan dan pupuk kandang.
  4. Pengerukan irigasi yang mengalami pendangkalan dan memperbaki yang rusak.

Jauh sebelumnya Buchman and Brady, (1982) menyatakan bahwa bahan organik sangat efektif  menahan penguapan dan menghalangi pertumbuhan gulma.  Hasil penelitian penggunaan mulsa kalopogonium dan jerami padi terhadap kedelai pada lahan kering masam di Sitiung memperlihatkan hasil sebesar 1,81 ton/ha dan 2,07 ton/ha. Sedangkan penggunaan pupuk kandang, gambut dan abu sekam pada tanah latosol dengan tekstur lempung berliat di Tongar Pasaman dapat meningkatkan hasil kedelai masing-masing berturut-turut 32%, 19% dan 17%, dibanding tanpa pemberian bahan organik. Hasil yang diperoleh bervariasi dari 0,94-2,07 ton/ha.  Hasil tertinggi diperoleh dengan pemberian bahan organic pada alur disamping barisan tanaman. Hasil terendah diperoleh pada pemberian secara sebar. c.Teknologi penggunaan plastik hitam perak. Merupakan teknologi yang banyak digunakan oleh petani dalam budidaya tanaman cabe. Plastik berfungsi mengurangi penguapan air (evaporasi) dari permukaan tanah sehingga kandungan air tanah dapat dipertahankan lebih lama sekaligus menghalangi pertumbuhan gulma.

  1. Pemilihan jenis varietas  yang resisten terhadap kekeringan.

IV. KARAKTER VARIETAS PADI GOGO DAN KEDELAI  YANG RESISTEN KEKERINGAN.

  1. PADI GOGO.

Varietas padi gogo harus disesuaikan dengan kondisi lahan dan curah hujan. Untuk lahan marginal sebagian besar lahan kering di Sumatera dan Kalimantan yang terdiri dari tanah podsolik merah kuning (PMK) diperlukan karakter sebagai berikut :

  1. Potensi hasil sedang dan mantap melebihi hasil Sentani sebagai pembanding.
  2. Tinggi tanaman lebih kurang 1 m, pertumbuhan cepat tegap dan kokoh, anakan sedang, perakaran dalam, daun agak terkulai, malai panjang dan lebar.
  3. Tahan terhadap blas, bercak coklat, bakteri busuk daun dan pelepah daun, lalat bibit dan wereng coklat.
  4. Toleran terhadap pH rendah dan kekeringan.
  5. Umur genjah (110-125 hari), untuk Indonesia bagian timur harus sangat genjah (95-100 hari).
  6. Contoh ragam varietas Padi dan tahun pelepasan adalah sebagai berikut: Genjah Lampung (1960); Seratus Malam (1960); Kartuna (1963); Sentani (1983); Tondano (1983); Arias (1984); Ranau (1984); Maninjau (1985); Danau Bawah (1987); Danau atas (1988); Batur (1988); Poso (1989); Laut Tawar (1989);  Danau Tempe (1991); Situ Gintung (1992); Musaddad et al (1993); Gata (1996); Gati (1996); Limboto (1999); Tawuti (1999) dan Sunihardi (2000).
  1. KEDELAI.

Karakter tanaman kedelai yang resisten terhadap kekeringan adalah sebagai berikut : Umur genjah, batang kokoh, percabangan banyak, perakaran dalam, daun sempit, tahan rebah, tahan terhadap penyakit karat daun dan lalat kacang/ bibit.  Ragam Varietas  yang dianjurkan adalah : Wilis (1983); Dempo (1984); Kerinci (1985); Dieng (1991); Kipas Putih (1992); dan Singgalang (1992).

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, A. Irsal Las, A. Hidayat da E. Pasandaran, 2000. Optimalisasi Sumber Daya Lahan             dan Air untuk Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan, dalam Karim Makarim et al. 2000 Tonggak Kemajuan Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Konsep dan Strategi Pembangunan Produksi Pangan. Puslitbangtan Badan Litbang Pertanian.

Alquran, surat 22 (Al-Hajj), ayat 5.

Asadi, 1991. Tanggap Padi Gogo terhadap Kekeringan  pada Tiga Stadium Tumbuh. Pemberitaan  Penelitian  Sukarami. No. 19 April 1991. Badan Litbang Pertanian.

Balittan Sukarami. 1992. Laporan Tahunan 1991-1992 Badan Litbang Pertanian, 98    halaman.

Brown. 1827 dalam mukjizat tumbuhan dan buah-buahan dalam Ensiklopedia mukjizat   Alquran dan Hadist, cetakan III 2009 Penerbit Sapta Sentosa.

Bucman dan Brady, 1982. Ilmu tanah. Terjemahan Sugiman. Penerbit Bharatara Karya Aksara, Jakarta.

Dedi Nursyamsi, 2014, Food Smart Village, Teknologi Adaptif Lahan Kering. Tabloid Sinar Tani No 3577 Tahun XLV, Edisi 8-14 Oktober 2014.

Harahap, Z. Sukarno, Herlina Lubis, Sutanto, 1995. Padi Unggul Toleran Kekeringan dan Naungan Puslitbangtan, Badan Litbang Pertanian, 21 halaman.

Kung. P. 1991. Irrigation Agronomy in Monsoon in Asia. FAO-AGPC MISC, Paper    2, 106p.

Las, I. A. K. Makarim, A. Hidayat, A. Karama dan I. Manuwan, 1991. Peta Agroekologi Utama Tanaman Pangan di Indonesia. Laporan Khusus Pus/05/90 Puslitbangtan Bogor.

Musaddad. A., Husni Kasim, Sunihardi, 1983. Varietas Unggul Tanaman Pangan. Produksi 1918-1983. Puslitbangtan, Badan Litbang Pertanian. 18 halaman.

Oldeman, L.R. dan I. Las, 1980. An Agroclimatic Clasivication System of the Rice Growing Environment in Indonesia. In Agroclimatic Risearch on Rice and Scondary Crops. Spec Series a Centre Res. Inst. For Agric. Bogor Indonesia.

Razak Abdul, 2007. Peranan Lahan Basah dalam Pengelolaan DAS, Universitas Gajah  Mada Yogyakarta.       

Sarief. S., H.E., 1989. Fisika- Kimia Tanah Pertanian. Cetakan Pertama. Penerbit  CV. Pustaka Buana-Bandung.

Sunihardi dan Hermanto. 2000. Deskripsi Varietas Unggul Padi dan Palawija.   1999-2000. Puslitbangtan, Badan Litbang Pertanian, 40 halaman.


 

instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google