JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SISTEM PERBENIHAN BENIH KEDELAI

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 
fShare
1

Oleh :  Cut Maisyura /Penyuluh Pertama 

Salah satu target sukses pembangunan pertanian adalah mencapai swasembada lima pangan pokok yang salah satunya adalah kedelai. Sebagai sarana produksi yang membawa sifat-sifat varietas tanaman, benih berperan penting dalam menentukan tingkat hasil yang akan diperoleh. Varietas unggul kedelai umumnya dirakit untuk memiliki sifat-sifat yang menguntungkan, yakni : 1) daya hasil tinggi, 2) ketahanan terhadap hama dan penyakit yang mendukung sistem pola tanam dan program pengendalian hama terpadu, 3) umur genjah untuk meningkatkan indek pertanaman dan 4) keunggulan hasil panen sehingga sesuai dengan selera konsumen.

Keunggulan tersebut ditemui pada benih sumbernya yakni Benih Penjenis (BS), Benih Dasar (FS), Benih Pokok (SS) dan Benih Sebar (ES) sebagai kelas benih bermutu. Oleh karenanya Benih Sumber harus mampu mencerminkan sekaligus menjamin tersedianya benih bermutu, yakni secara genetik murni, secara fisiologik bervigor, dan secara fisik bersih, seragam serta sehat. Percepatan penyediaan benih sumber seyogyanya tidak dilakukan dengan mengorbankan mutu yang akhirnya merusak sistem perbenihan.

Sistem perbenihan formal untuk tanaman kedelai hingga kini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sebagai indikasi adalah penggunaan benih bersertifikat untuk tanaman kacang-kacangan masih kurang dari 3 % . Untuk memenuhi kebutuhan benih kedelai bermutu dalam upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani perlu di bina usaha penangkaran benih,terutama di sentra produksi kedelai.

Keberhasilan diseminasi teknologi varietas unggul ditentukan antara lain oleh kemampuan industri benih untuk memasok benih hingga sampai ke tangan petani. Oleh karena itu, keberadaan sistem perbenihan yang kokoh (produktif, efisien, berdaya saing, berkelanjutan) sangat diperlukan untuk mendukung upaya peningkatan produksi dan mutu produk pertanian.

Alur perbanyakan benih tanaman pangan diawali dari penyediaan benih penjenis (BS) oleh Balai Penelitian Komoditas, sebagai sumber untuk sampai dengan perbanyakan benih dasar (BD), kemudian benih pokok (BP), dan seterusnya, benih sebar (BR).

Kesinambungan alur perbanyakan benih tersebut sangat berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan benih sumber yang sesuai dengan kebutuhan para produsen/ penangkar benih dan sangat menentukan dalam proses produksi benih sebar. Kelancaran alur perbanyakan benih tersebut juga sangat menentukan kecepatan penyebaran varietas unggul baru kepada para petani.

Berkaitan dengan hal itu, Badan Litbang Pertanian berkewajiban untuk mendukung keberhasilan program tersebut melalui penyediaan benih sumber sehingga pengembangan varietas-varietas unggul baru (VUB) dapat dipercepat. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan produksi, produktivitas dan mutu benih yang sesuai dengan kebutuhan pengguna benih, sehingga sasaran pembangunan tanaman pangan dapat dicapai.

Klasifikasi Benih Kedelai

Berdasarkan fungsi dan cara memproduksinya, benih terdiri atas benih inti (nucleous seed), benih sumber dan benih sebar. Benih inti (nucleous seed/NS) adalah benih awal yang penyediaannya berdasarkan hasil proses pemuliaan dan/atau perakitan suatu varietas tanaman oleh pemulia pada lembaga penyelenggara pemuliaan (Balai Penelitian Komoditas).

Benih inti merupakan benih yang digunakan untuk perbanyakan atau menghasilkan benih penjenis (breeder seed/BS). Benih sumber terdiri dari 3 (tiga) kelas yaitu benih penjenis (breeder seed/BS), benih dasar (Foundation Seed/FS/BD) dan benih pokok (stock seed/SS/BP). Benih penjenis merupakan perbanyakan dari benih inti, yang selanjutnya akan digunakan untuk perbanyakan kelas-kelas benih selanjutnya, yaitu benih dasar dan benih pokok. Benih sebar (Extension Seed/ES/BR) disebut benih komersial karena merupakan benih turunan dari benih pokok, yang ditanam oleh petani untuk tujuan konsumsi. Uraian masing-masing kelas benih adalah sebagai berikut:

Benih Penjenis (Breeder Seed/BS).

Benih penjenis adalah benih sumber yang proses produksinya dikendalikan langsung oleh pemulia (breeder) yang menemukan atau diberi kewenangan untuk mengembangkan varietas tersebut. Saat ini pengelolaannya melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) di Balai Penelitian (untuk kedelai di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian). Benih penjenis dicirikan dengan label berwarna putih (rencana menjadi warna kuning) yang ditanda tangani oleh pemulia dan kepala institusi penyelenggara pemuliaannya. Benih penjenis dipergunakan sebagai benih sumber untuk produksi atau perbanyakan benih dasar (FS/BD).

Benih Dasar (Foundation Seed/FS/BD).

Benih dasar adalah benih sumber yang produksi benihnya ditangani oleh produsen benih (BBI, BPTP, perusahaan benih BUMN/swasta yang profesional) dan pengendalian mutu dalam proses produksinya melalui sertifikasi benih (melalui BPSB atau Sistem Manajemen Mutu). Balitkabi tahun 2007 membantu pengadaan benih dasar kedelai, mengingat perkembangan alur benih khususnya kedelai ini belum mantap. Benih dasar merupakan benih sumber untuk perbanyakan/produksi benih pokok (SS/BP).

Benih Pokok (Stock Seed/SS/BP).

Benih pokok adalah benih sumber yang produksinya dilakukan oleh produsen/ penangkar benih di daerah yang pengendalian mutunya melalui sertifikasi benih (oleh BPSB atau menerapkan sistem manajemen mutu). Balitkabi tahun 2007 membantu memproduksi benih kedelai klas SS/BP khususnya untuk varietas-varietas unggul baru, untuk membantu penyebar luasan. Benih pokok biasanya dipergunakan sebagai benih sumber untuk menghasilkan benih sebar (ES/BR).

 SISTEM PRODUKSI BENIH SUMBER KEDELAI

Alur penyediaan benih sumber kedelai adalah sebagai berikut (Tabel 1) Tabel 1. Alur produksi benih sumber kedelai

Alur Produksi

Hasil (Kelas Benih)

Pelaku (Produsen)

Benih Sumber

 

 

NS → BS

BS

Balitkabi

BS → BD

BD (FS)

Balitkabi, BPTP, BBI, penangkar

BD → BP

BP (SS)

Balitkabi, BPTP, BBI, BBU, BUMN,

 

 

Swasta, Penangkar setempat.

BP → BR

BR (ES)

Semua Produsen Benih (BUMN/Swasta/

 

 

Penangkar/Produsen Setempat)

BR → PETANI

−−−−−−−−−−−−→

Benih Berbantuan Tahun 2007

 Distribusi Benih

Distribusi benih adalah suatu rangkaian kegiatan penyaluran benih sehingga benih tersebut dapat dijangkau/diterima oleh petani. Berdasarkan volume benih yang disebarluaskan, maka distribusi benih ini terdiri atas distribusi benih varietas publik dan varietas komersial.

Yang dimaksud varietas publik adalah varietas yang diciptakan oleh pemulia, baik itu melalui pemerintah atau non pemerintah dengan tujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat/petani. Varietas publik dicirikan bahwa masyarakat umum dapat memiliki varietas dimaksud, serta dapat memproduksi dengan bebas, termasuk memproduksi benih varietas tersebut. Contoh, varietas-varietas kedelai seperti wilis, bromo, argomulyo, burangrang, anjasmoro, tanggamus, sinabung, panderman.

Sedangkan varietas komersial adalah varietas-varietas yang dihasilkan oleh pemerintah atau swasta, yang kepemilikannya merupakan monopoli dari produsen benih, masyarakat yang membutuhkan dapat membelinya dari agen-agen atau kios-kios yang sudah ditentukan (di pasar). Untuk varietas kedelai belum ada yang dimiliki atau dimonopoli produsen benih

Bila dilihat dari alur distribusi benihnya, penyaluran benih dapat dibagi atas:

a. Alur Distribusi Benih Sumber Varietas Publik

   Alur distribusinya adalah sebagai berikut:

  1. Penyaluran benih penjenis (BS) kepada Balai-Balai Benih Propinsi atau Institusi Perbenihan lainnya. Hal ini dilakukan oleh Direktorat Perbenihan atau langsung dari Institusi Penyelenggara Pemuliaan (BB Kedelai).
  2. Penyaluran benih dasar (FS/BD) kepada Balai-Balai Benih, Perusahaan Benih Swasta atau Penangkar Benih Profesional di tingkat kabupaten. Hal ini dilakukan oleh Dinas Pertanian Propinsi atau Balai Benih Propinsi.
  3. Penyaluran benih pokok (SS/BP) kepada perusahaan benih swasta atau penangkar benih. Kegiatan ini dilakukan oleh Balai Benih di tingkat kabupaten atau perusahaan benih swasta/penangkar benih profesional.
  4. Penyaluran benih sebar (BR/BR1) kepada petani dilakukan oleh BUMN/Swasta/Penangkar melalui kios-kios penyedia sarana produksi

5.Penyaluran JABALSIM (Jalinan Arus Benih Antar Lapang dan Antar Musim)

JABALSIM adalah proses mengalirnya benih antar daerah yang dinamis berdasarkan

 azas keterkaitan dan ketergantungan sehingga menjadi suatu sistem pemenuhan kebutuhan benih di suatu daerah.

JABALSIM dapat terjadi, sebagai akibat: 1) sifat benih yang mudah rusak, penurunan daya tumbuh yang menyebabkan pada kondisi tertentu benih tersebut tidak dapat disimpan untuk musim berikutnya; 2) adanya perbedaan agroklimat atau musim tanam antar wilayah; 3) adanya persamaan ekologi lahan antar wilayah.

Dari segi musim tanam kedelai di lahan kering atau di kawasan hutan yang ditanam jatuh pada bulan Februari–April (akhir musim hujan), hasilnya sangat sesuai untuk produksi benih kedelai di lahan sawah yang jatuh pada bulan Mei-Juli untuk Musim Kemarau I dan hasil dari kedelai MK I dapat dipakai sebagai benih sumber pada pertanaman kedelai Musim Kemarau II pada Agustus–Oktober.

Kondisi ini sesuai untuk melaksanakan sistem perbenihan Jalur Benih Antar Lapang dan Antar Musim (Gambar 1).

Gambar 1 : Jalur benih antar lapang, antar musim menjamin ketersediaan benih kedelai sepanjang tahun

Untuk mewujudkan impian kedelai di lahan kering atau hutan sebagai sumber benih diperlukan dukungan kebijakan untuk memberikan insentif kepada petani berupa akses, modal, sarana produksi (benih, pupuk, pestisida), peningkatan pengetahuan tentang inovasi teknologi terkini (pelatihan, penyuluhan).

Kebijakan penting lainnya adalah penetapan harga jual yang menarik, pembatasan impor atau diberlakukan tarif impor, meningkatkan peran BUMN untuk menampung hasil kedelai dengan harga yang layak pada saat panen raya, dukungan pengambil kebijakan di daerah untuk mendorong pengembangan kedelai dan menampung hasil panen kedelai. Perlu sinkronisasi program dengan GP3K (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi), di mana pelaku atau pengelola GP3K adalah HTI, Perhutani, PT. SHS, PT. Pertani dan Petrokimia dan institusi terkait lainnya dengan Pola Kemitraan seperti pada Gambar 4.

Badan Litbang

Petanian

  • Identifikasi kesesuaian lahan
  • Sumber benih FS

Sosialisasi teknik

 

 

 

 

PT. SHS dan PT.

 

produksi

 

 

HTI/Perhutani

Pertanian

 

Pendampingan

 

-

Penyedia lahan

-

Pembelian benih

 

 

 

-

LMDH penanam kedelai

 

dari petani LMDH

Distribusi benih ke lahan sawah

 

 Ditjentan

 

 

 

 

 

 

  • Subsidi saprodi untuk
  • petani LMDH
  • Sertifikasi benih

 

 

Dukungan

 

Petani di lahan sawah

Kebijakan

 

 

 

- Penetapan harga

- Tata niaga kedelai

 

Gambar 4. Pola kemitraan pengembangan benih sumber kedelai di kawasan hutan kayu putih.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 2013. Pedoman umum Pengelolaan Benih Sumber Kedelai.

Departemen Pertanian. 2006. Arah dan Strategi sistem Perbenihan Tanaman Nasional.

Hidajat,J.R.,Harnoto, M. Mahmud, dan Sumarno.2000. Teknologi Produksi Benih Kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

Kelly, A.F. 1988. Seed Production of Agricultural Crops. Longman Scientific & Technical. NewYork.

Nugraha, U.S dan J.R. Hidajat. 2000. Konsep Sistem Perbenihan Tanaman Pangan Untuk 

Mendukung Pengembangan Industri Benih dan Diseminasi Varietas Unggul Baru.          

Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV. Puslitbangtan Bogor, 22-24 November 1999: 315-324.