JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknik Pengendaian Gulma (Fisik, Biologi Dan Kimiawi) Pada Tanaman Kedelai

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 
fShare
15

Oleh: Ratnawati

Kedelai merupakan sumber protein dan lemak nabati yang sangat penting peranannya dalam kehidupan. Kandungan kedelai terdiri dari 35 % Protein sedangkan kadar protein kedelai pada varietas unggul dapat mencapai 40-43 %. Kebutuhan protein sebesar 55 gram perhari dapat dipenuhi dengan makanan yang berasal dari kedelai 157,14 gram (Radiyati, 1992). Di samping itu kedelai juga mengandung  lemak sekitar 20%, dibagi menjadi lemak jenuh dan tidak jenuh dan jumlah kandungan mineral di antaranya kalium, kalsium fosfor, dan magnesium. Dan beberapa sejumlah vitamin adalah vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, dan sedikit vitamin C.

Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma dapat menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang (Wikipedia, 2010).

Pada Budidaya tanaman  kedelai, gulma sangat berpotensi mengganggu  pertumbuhan vegetatif  tanaman yang akhirnya berdampak pada penurunan peningkatan kuantitas dan kualitas hasil tanaman kedelai itu sendiri.

Menurut Soetikno S. Sastroutomo (1990), penurunan hasil akibat kompetisi gulma pada pertanaman kedelai dapat mencapai 10-50%pada populasi 20% dari populasi  tanaman kedelai, oleh karena itu teknik pengendalian gulma pada budidaya kedelai sangat diperlukan.

Pada tempat-tempat yang telah ditumbuhi gulma, tanaman kedelai tidak dapat tumbuh dengan baik.  Jenis gulma yang  biasa tumbuh di pertanaman kedelai sekitar 56 spesies yang terdiri atas 20 jenis rerumputan, 6 jenis teki-tekian, dan 30 jenis berdaun lebar di antaranya terdapat        jenis-jenis     gulma yang  sangat merugikan.

Pada lahan dengan indeks pertanaman 300% atau tidak mengalami masa istirahat lama, ragam dan jumlah gulma relatif sedikit. Sebaliknya, pada lahan yang mengalami masa istirahat lama (bera), ragam dan jumlah gulma relatif banyak. Beberapa jenis gulma yang dominan pada pertanaman kedelai antara lain adalah Amaranthus sp. (bayam), Digitaria ciliaris (rumput jampang), Echinochloa colonum (rumput jejagoan), Eragrotis enioloides (rumput bebekan), Cyperus kyllingia (rumput teki), Cyperus iria (rumput jeking kunyit), Portulaka sp. (krokot), Ageratum conyzoides (wedusan), Molluge penaphylla (daun mutiara), dan Mimosa pudica (puteri malu). gulma Amaranthus sp, Digitaria ciliaris, dan Cyperus rotundus dapat menurunkan hasil kedelai masing-masing sebesar 35%, 21%, dan 15%.Dilahan kering masam yang didominasi oleh gulma Barreria alata dengan kerapatan nisbi sebesar 79% dapat menurunkan hasil biji kedelai sebesar 60%.

Selain kerugian dari sisi kompetisi, ada beberapa jenis gulma yang mempunyai sifat alelopati yaitu kemampuan mengeluarkan zat yang bersifat racun dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman tertentu. Misalnya Imperata cylindrica menghasilkan zat phenol, Juglans nigra dapat memproduksi hydroksi juglon, Artemisia absinthium mengeluarkan zat absintin yang dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetatif.

Keberhasilan pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu tercapainya tingkat hasil kedelai yang tinggi, pengendalian gulma dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, biologis, dan khemis,  oleh karena harus dilakukan secara intensif (Widiyati et al. 2001 dalam Fadhly, 2004).

Gulma pada tanaman kedelai umumnya dikendalikan dengan cara fisika, biologi  dan kimiawi. Pengendalian gulma secara kimiawi berpotensi merusak lingkungan sehingga perlu dibatasi memalui pemaduan dengan cara pengendalian lainya. 

Teknik  Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara:

  1. 1.  Preventif (pencegahan)

Cara pencegahan antara lain :

  1. Dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma
  2. Pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang
  3. Pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumput makanan ternak
  4. Pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan
  5. Pembersihan ternak yang akan diangkut
  6. Pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan lain sebagainya.

2Pengendalian gulma secara fisik

Pengendalian gulma secara fisik ini dapat dilakukan dengan jalan :

a.    Pengolahan tanah

Pengolahan tanah menggunakan alat-alat seperti cangkul, garu, bajak, traktor yang  berfungsi untuk memberantas gulma. Efektifitas alat-alat pengolah tanah di dalam memberantas gulma tergantung beberapa faktor seperti siklus hidup dari gulma, penyebaran akar, umur dan ukuran infestasi,

b.   Pembabatan (pemangkasan, mowing)

Pembabatan umumnya hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan relatif kurang efektif untuk gulma tahunan. Efektivitas cara ini tergantung pada waktu pemangkasan, interval (ulangan) Pembabatan sebaiknya dilakukan pada waktu gulma menjelang berbunga atau pada waktu daunnya sedang tumbuh dengan hebat.

c.    Penggenangan

Penggenangan efektif untuk memberantas gulma dengan menggenangi sedalam 15 – 25 cm selama 3 – 8 minggu. harus cukup terendam sehingga pertumbuhan gulma tertekan.

d.   Pembakaran

Suhu kritis yang menyebabkan kematian pada kebanyakan sel adalah 45 – 550 C, kematian dari sel-sel yang hidup pada suhu di atas disebabkan oleh koagulasi pada protoplasmianya. Pembakaran secara terbatas masih sering dilakukan untuk membersihkan tempat-tempat dari sisa-sisa tumbuhan setelah dipangkas. Pembakaran juga dapat mematikan insekta dan hama lain serta penyakit seperti cendawan, bakteri kekurangan dari sistem ini dapat  mengurangi kandungan humus atau mikroorganisme tanah, dapat memperbesar erosi.

 e.    Mulsa (mulching, penutup seresah)

Penggunaan mulsa untuk mencegah cahaya matahari tidak sampai ke gulma, sehingga gulma tidak dapat melakukan fotosintesis, akhirnya akan mati dan pertumbuhan yang baru (perkecambahan) dapat dicegah. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mulsa antara lain jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas dan plastik.

  1. 3.  Pengendalian gulma secara biologis

Pengendalian gulma secara biologis (hayati) dengan menggunakan organisme lain, seperti insekta, fungi, bakteri  sebagainya. Pengendalian biologis yang intensif dengan insekta atau fungi dapat erpotensi mengendalikan gulma secara biologis

4.  Pengendalian gulma secara kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma, baik secara selektif maupun non selektif. Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun sistemik, dan penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan tanaman, mempunyai efek residu terhadap pencemaran lingkungan. Sehubungan dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan pilihan terakhir apabila cara-cara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil.

DAFTAR PUSTAKA

Ashton, F. M. adnd T. J. Monaco. 1991. Weed Science: Principles and Pratice. 3rd Ed. John         Wiley and Sons, Inc.: New York. 466 p.

Eprim, Yeheskiel Sah. 2006. Periode Kritis Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merr.)         Terhadap Kompetisi Gulma Pada Beberapa Jarak Tanam di Lahan Alang-alang (Imprata cylindrica (L.) Beauv.). Skripsi. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian         Institut Pertanian Bogor. 

Fadhly, A.F. dan Tabri, F. 2004. Pengendalian Gulma pada Pertanaman Jagung. Balai         Penelitian Tanaman Serealia, Maros. Goldsworthy, P. R. dan N.M. Fischer. 1992.         Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. 874 hal. 

Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan, 2007, Kedelai Teknik Produksi dan         Pengembangannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,1985, Kedelai. Pusat Penelitian dan         Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Tanggal Artikel : 08-12-2014.

Radiyati, T., 1992. Pengolahan Kedelai. Subang : BPTTG Puslitbang Fisika Terapan-LIPI.

Smith, J. R. 1981. Weed of Majpr Economic Importance in Rice and Yields Loisses Due to Weed Competition. P 19-36. In Procidings of The Conference on Weed Control of Rice. IRRI. Manila. Philippines.

Sutikno, Sastroutomo. 1990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utam, Jakarta.

Tyas    2010. Persaingan   Gulma Teki dengan Tanaman. Kedelai.http://breederlifeblogspot.com/2010/02/persaingan-gulma-teki-dengan tanamanhtml/ (diakses 3 Maret 2015).


 

instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google